Arti Penting Pohon Pelindung Jalan

Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, yang terkait keberadaan pohon pelindung di jalan, ternyata memang tekanan kepada sebatang pohon untuk tumbuh terus di pinggir jalan itu sangat berat. Ternyata selain faktor alam, ternyata faktor manusia atau faktor kesengajaan juga memiliki andil dalam keberadaan pohon di pelindung jalan ini.
Pohon pelindung di pinggir jalan yang membuat nyaman
Ilustrasi nyamannya jalan yang rindang penuh pohon pelindung.
Disadari atau tidak, pohon itu memberikan manfaat yang sangat besar, terutama untuk kelangsungan hidup manusia. Paling tidak seperti yang dipelajari anak SMP pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut pelajaran IPA SMP, pohon itu dapat menghasilkan oksigen dari proses fotosintesis. Oksigen inilah yang merupakan komponen yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia.

Selain itu, rentetan musibah banjir dan longsor yang terjadi di beberapa tempat, juga yang dipersoalkan adalah kerusakan hutan di sekitar hulu sungai.

Tetapi, apakah ada yang mengerti gak, besarnya ancaman yang diterima sebatang pohon hingga bisa tumbuh besar dan dapat memiliki fungsi ekologis?

Ternyata meskipun manusia sangat tergantung kepada pohon, tetapi justru manusia sendirilah yang mengancam keberadaan pohon. Terutama keberadaan pohon di pelindung di pinggir jalan.

Sebenarnya dari dulu saya sudah "gatal" pengin curhat atau curcol tentang hal yang mengancam keberadaan pohon ini. Tetapi karena belum mood untuk nulis, ya akhirnya tertunda. Baru sekarang kesampaian nambahin tulisan dan ngedit dari posting sebelumnya di Ghost Ships. Tapi posting ini sudah melalui proses editing dan penghalusan bahasa hehehe ....

Waktu itu, ketika saya diberikan tugas yang salah satunya adalah memeliharaha keberadaan pohon pelindung jalan di salah satu instansi milik Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Pada dasarnya sebagai seorang Rimbawan sangat kaget ketika diberikan tugas memelihara pohon-pohon tetapi banyak sekali permintaan izin untuk menebang pohon tanpa alasan yang logis. Saya katakan tanpa alasan yang logis karena menurut saya, sebatang pohong layak ditebang ketika : sudah tidak ada lagi riap (pertumbuhan), terserang hama/penyakit, atau keberadaannya membahayakan keselamatan harta/jiwa. Alasan-alasan itu (menurut saya) sudah diadaptasi bukan untuk di dalam (kawasan) hutan.

Dengan segala cara saya berupaya mempertahankan keberadaan sebatang pohon meskipun harus berbenturan dengan pimpinan sekalipun. Karena selain seorang Rimbawan mungkin tidak sadar akan artinya sebatang pohon. Karena meskipun hanya sebatang, pohon pastinya telah ikut menunjang kehidupan manusia. Ada hal yang tidak disadari oleh orang awam, karena pohon itu memiliki yang namanya  intangible value.

Tidaka perlu dijelaskan secara mendetail ya mengenai intangible value. Yang pasti sebuah pohon dapat memberikan manfaat bagi (keberadaaan) manusia, rasanya rugi saya berbagi ilmu itu kalo hanya untuk dibaca saja kemudian dilupakan tanpa diresapi dan dimaknai pentingnya sebatang pohon di lingkungan kita. Jadi silahkan baca aja di referensi yang lain.

Ternyata keberadaan sebatang pohon dianggap sepele saja deh. Mau bukti?....

Hal yang paling sering saya denger tuh : takut tumbang, daunnya mengotori halaman, menghalangi jalan masuk de el el ... Yang paling membuat greget ternyata keberadaan pohon hanya dijadikan tempat memasang (pakai paku) reklame caleg dan media promosi lainnya. Kalo ada sebatang pohon yang terpelihara subur dan rindang tapi menghalangi reklame ujungnya ada permintaan untuk (minimal) dipangkas, malah banyakan minta ditebang.... huft....

Saya pernah baca sebuah surat permohonan yang ditandatangani oleh seorang (yang harusnya) terpelajar (gelarnya Magister pula hehehe...), karena dalam penutup suratnya tertulis penanggung jawab akademik (sebuah kampus). Nampaknya beliau keukeuh untuk menebang sebatang pohon, sampe menyempatkan 2 kali berkirim surat (setelah surat pertama ditolak hahaha ...).

Alasannya adalah karena trotoar akan dijadikan tempat kegiatan akademik dalam rangka menunjang tri dharma perguruan tinggi (isinya kurang lebih begitu lah, sudah saya edit seperlunya). Kasihan sekali mahasiswanya harus beraktifitas di trotoar hahaha, udah mahal2 bayar biaya kuliah eh aktifitas akademik di trotoar pula hahaha ....

Kalo saja saya jadi beliau, tidak akan pernah mau menandatangani surat dengan redaksi seperti itu. Saya cuma berfikir, emang fungsi trotoar untuk apa ? Pejalan kaki atau kegiatan akademik ? hahaha.... kasihan sekali nanti mahasiswanya.....

Sebenernya sih saya lebih suka kalo gak ada pohon saja sekalian hahaha.... Kenapa saya bilang begitu ?... toh dengan makin sedikit pohon yang harus dipelihara makin ringan kerjaan dong, hahaha.... toh gaji dan tunjangan sama aja ya....

Ketika pohon sudah tidak ada dan digantikan oleh (cuma) tanaman hias nampaknya banyak konsekuensinya. Saya cuma mau memberikan gambaran saja, riap pohon itu kan konon katanya cuma 1 m3/hektar/tahun, sementara untuk menumbuhkan pohon dengan diameter 20 cm saja mungkin butuh waktu paling tidak 20 tahun (misalnya) ... Belum lagi semua hara sudah terangkut ke dalam batang pohon. Jadi ketika sebatang pohon ditebang, hilanglah unsur hara di sekitar tapak pohon itu, hitung pula berapa biaya pemeliharaan selama itu yang sudah dikeluarkan ....

Saya kira orang-orang sekarang itu harus merasakan dulu dampak ekologis dengan ketidakadaan pohon baru menyesal belakangan.... Dan karena ketidakpahaman si eta (hahaha ...) pula Rimbawan yang ada malah dimarjinalkan. Jadi tunggu aja kerusakan lingkungan yang akan terjadi.

Jangan sampai telat sadar akan pentingnya arti sebatang pohon.....
loading...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Arti Penting Pohon Pelindung Jalan"

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan komentar dan semua komentar akan muncul setelah dimoderasi.

Artikel Pilihan :

Booking Hotel, Tiket Pesawat dan Kereta Api Murah dari Pegipegi di Sini