Ketika Jadi Responden Penelitian Mahasiswa Kaya

Penelitian sebagai tugas akhir kuliah. Ilustrasi mahasiswa dan penelitian. Sumber : Pixabay
Ilustrasi mahasiswa dan penelitian. Sumber : Pixabay.

Ini sebenernya kejadian lama, tetapi kenapa koq ya tiba-tiba pengin re-post dengan gaya yang berbeda ya ? Sekitar 3 tahun yang lalu, saya kedatangan tamu. Seorang pemuda dengan dandanan yang dandy. Saya sempet berfikir, ini Sales Promotion Boy (SPB) kali ya ? hehehe ..., aneh memang kalo saya didatangi SPB, soalnya biasanya cuma terima Sales Promotion Girl (SPG) aja hehehe ... Eh, ternyata dia seorang mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir. Rupanya dia sedang mengumpulkan data untuk skripsi di salah satu kampus di Tasikmalaya.

Iseng aja tanya-tanya topiknya tentang apa ? ... Dia bilang mengenai implementasi sebuah Peraturan Daerah (Perda) di Kota Tasikmalaya. Karena masih diperlukan wawancara (mungkin terstruktur) jadi harus kembali ke responden katanya. OK, lah kalo begitu, saya bilang, apa kekurangannya ? Dia bilang perlu rekaman wawancara.

Jadi lah wawancara dengan beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan, sebenernya kalo liat isi pertanyaan, seharusnya dia "dilayani" oleh Kepala Dinas, karena isinya adalah kebijakan tentang implementasi Perda. Tapi gak papa lah, mungkin si Boss sibuk atau mahasiswanya buru-buru atau sebab lain.

Saya gak mau komentar tentang kesiapan dia untuk lulus dari aspek skripsi. Nanti dikira saya membantai hahaha... Kalo saya jadi dosennya, saya cuma rela ngasih dia maksimal nilai C- - - untuk skripsi, gak tau kalo ada ujian komprehensif-nya hahaha ....

Ya, udah, itu jangan dipersoalkan toh seharusnya di setiap lembaga pendidikan ada divisi yang menjadi penjamin mutu kualitas lulusan. Artinya, kalo ada yang "lolos" dengan kondisi seperti itu, yang salah bukan hanya mahasiswa (yang pengin lulus) tapi salah sistem secara keseluruhan. Nah, lulusan ini, kemungkinan besar akan menambah panjang antrian sarjana yang membebani.

Ya menjadi beban, karena dengan kualifikasi seperti itu, apa iya dia mampur bersaing di dunia kerja ? Ketika saya baca berita di koran lokal beberapa hari lalu angka pengangguran di Kota Tasikmalaya di kisaran belasan ribu orang. Saya koq curiga lembaga pendidikan berlomba menerima mahasiswa dan meluluskannya hanya mengejar kuantitas saja. Tapi semoga dugaan saya gak bener ya ... kalo iya, mau dong buka kampus hahaha ... Soalnya lembaga pendidikan itu sebuah bisnis yang sangat menguntungkan ternyata.

Nah, yang jadi poin penting yang ingin saya sampaikan adalah, ketika mahasiswa itu beres wawancara dan pamit pulang, dia ke saya memberikan amplop (hiks ...). Saya gak menyangka sama sekali, dan saya bilang "Dik, saya juga pernah mahasiswa, dan merasakan sulitnya beban jadi mahasiswa, gak usah ngasih amplop lah ke saya !!!..."

Saya sebenernya mau marah, tapi gak tega, justru malah menjadi sedih. Koq mental mahasiswa seperti itu ? Saya juga gak tau kenapa bisa kejadian seperti itu. Saya jadi mikir jauh, ....
  • apakah dia biasa seperti itu ? (menyelesaikan sesuatu dengan uang)....
  • apakah dia mahasiswa (sangat) kaya ?, .... (sampai harus buang-buang uang hanya urusan ginian)
  • apakah dia menganggap sedemikian parahnya PNS yang melayani dia ? .... (sehingga harus dikasih "tips" segala, emangnya saya pelayan restoran hahaha ...)
Sampai sekarang saya gak nemu jawabannya, yang jelas saya sedih banget liat mental generasi muda seperti itu .... Terutama si mahasiswa kaya itu ...
loading...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ketika Jadi Responden Penelitian Mahasiswa Kaya"

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan komentar dan semua komentar akan muncul setelah dimoderasi.

Artikel Terkait :

Booking Hotel, Tiket Pesawat dan Kereta Api Murah dari Pegipegi di Sini