Memahami Pembangunan dan Indikator Keberhasilannya (Sebuah Pengantar)

Istilah pembangunan menurut Todaro (2003) secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional, untuk menciptakan dan mempertahankan kenaikan pendapatan nasional bruto atau GNP (gross national product). Ukuran lain yang mirip dengan GNP, yaitu yang dikenal dengan istilah produk domestik bruto atau GDP (gross domestic product).
Ilustrasi modal sumberdaya manusia.
Ilustrasi modal sumberdaya manusia. Sumber : Flickr.

Pembangunan merupakan suatu kenyataan fisik sekaligus tekad suatu masyarakat untuk berupaya sekeras mungkin-melalui serangkaian kombinasi proses sosial, ekonomi, politik, dan institusional-demi mencapai kehidupan yang serba lebih baik (Todaro, 2003). Tujuan pembangunan bertujuan adalah untuk mencapai tiga tujuan inti pembangunan, yaitu sebagai berikut :
  1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan perlindungan keamanan.
  2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang semuanya itu tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan material, melainkan juga menumbuhkan jati diri dan bangsa yang bersangkutan.
  3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap menghamba dan kebergantungan, bukan hanya terhadap orang atau negara-negara bangsa lain, namun juga terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kemanusiaan mereka.
Selanjutnya Todaro (2003) menyatakan bahwa pembangunan ekonomi masa lampau juga sering diukur berdasarkan kemajuan struktur produksi dan penyerapan tenaga kerja. Secara umum, sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja.

Paradigma pembangunan di masa lalu yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan tingginya tingkat pencapaian GNP, telah menghasilkan kegagalan pada tercapainya tujuan dan hakekat pembangunan itu sendiri. Pembangunan hanya dinikmati oleh sekelompok orang tertentu dengan orientasi pada pembangunan fisik saja.

Yang menjadi kelemahan GNP adalah bahwa pembangunan dengan GNP yang tinggi atau pertumbuhan cepat pada dasarnya bukan hanya menumbuhkan GNP, tetapi juga siapakah yang akan menumbuhkan GNP, sejumlah besar masyarakat yang ada ataukah hanya sedikit orang saja. Jika yang menumbuhkan GNP hanyalah orang-orang kaya yang berjumlah sedikit, maka manfaat pertumbuhan GNP hanya dinikmati oleh orang kaya saja, sehingga kemiskinan dan ketimpangan pendapatan pun akan semakin parah.

Desai dan Potter (2002) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan pertumbuhan GDP sebagai peningkatan output barang dan jasa yang diproduksi. Tetapi pertumbuhan ekonomi tidak sama dengan pembangunan ekonomi. Proses pembangunan ekonomi (dan sosial) harus diikuti dengan pertumbuhan standar hidup, tetapi ini merupakan konsep yang lebih luas dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan per kapita sendiri.

Pada akhirnya penerapan tolok ukur pembangunan yang murni bersifat ekonomis tersebut, agar lebih akurat dan bermanfaat, harus didukung pula oleh indikator-indikator sosial non ekonomis. Dari sekian banyak upaya untuk menciptakan indikator-indikator sosial yang berbobot guna mendampingi indikator GNP per kapita, yang paling menonjol adalah upaya PBB yang kemudian berhasil menciptakan indeks pembangunan manusia.

UNDP (United Nation Development Programme) pada tahun 1990 dalam Human Development Report (Laporan Pembangunan Manusia), telah merancang suatu ukuran kemajuan sosio ekonomi : Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengukur pencapaian keseluruhan dari suatu negara dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan suatu standar hidup yang layak. Ketiganya diukur dengan angka harapan hidup, pencapaian pendidikan dan pendapatan per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli.

IPM bukanlah satu-satunya alat ukur yang bisa digunakan untuk menggambarkan secara lengkap kualitas hidup manusia. IPM hanyalah mengungkapkan sebagian aspek saja dari pembangunan manusia, karena adanya kesulitan untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat atau kesehatan mental masyarakat yang merupakan aspek pembangunan manusia lainnya. Namun demikian, IPM cukup mampu mencerminkan dampak dari krisis ekonomi yang telah terjadi dan juga tiga indikator dalam IPM tersebut merupakan hak dan pilihan yang paling dasar dari kebutuhan manusia.

IPM merupakan indikator sosial yang dapat melengkapi indikator ekonomi seperti GNP, sehingga proses pembangunan yang multidimensi diharapkan dapat lebih terukur tingkat keberhasilan pelaksanaannya. Karena pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan (Todaro, 2003).

Referensi :
  1. BPS, Bappenas, UNDP. (2004). National Human Development Report 2004. The Economics of Democracy: Financing Human Development in Indonesia. http://www.undp.or.id/pubs/ihdr2004/index.asp.
  2. Desai, V. dan RB Potter (ed).  (2002). The Companion to Development Studies. London : Arnold.
  3. Todaro, MP. (2003). Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Terjemahan. Erlangga. Jakarta.

loading...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Memahami Pembangunan dan Indikator Keberhasilannya (Sebuah Pengantar)"

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan komentar dan semua komentar akan muncul setelah dimoderasi.

Artikel Pilihan :

Booking Hotel, Tiket Pesawat dan Kereta Api Murah dari Pegipegi di Sini