Kejadian
banjir bandang yang menerjang Garut pada hari Selasa (20/9/2016) meruapakan bencana alam terbesar yang melanda
Garut. Korban jiwa mencapai 20 orang dan tentunya korban materi yang tidak sedikit. Ketika banjir bandang sudah terjadi semua orang bertanya, kenapa bisa terjadi ?.
 |
| Pasirwangi yang dipenuhi bangunan dan kebun sayuran. |
Penyesalan dan silang pendapat ketika
banjir bandang Garut sudah terjadi adalah sudah sangat terlambat. Memang ada yang harus bertanggung jawab atas semua bencana alam yang terjadi.
Dari referensi yang ada, ternyata kondisi
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cimanuk kondisinya memang buruk. Bahkan menurut Kepala
BPLHD Jawa Barat, Anang Sudharna, kerusakan
DAS Cimanuk sudah mencapai angka 60 %.
Setahun lalu, sekitar bulan April 2015, saya sempat mengambil beberapa frame
foto Pasirwangi dan sekitarnya. Kemudian saya posting di
facebook dengan caption kekhawatiran kejadian bencana. Berikut ini adalah foto kondisi
Pasirwangi setahun lalu. Sebagai penggemar
fotografi saya sangat menikmati
hunting foto di Pasirwangi karena menyajikan landscape yang indah, tetapi sebagai orang kehutanan merasa ngeri melihatnya.
 |
| Lereng gunug Guntur yang sudah gundul, |
 |
| Sebagian besar Pasirwangi sudah ditanami sayur dan menjadi obyek wisata. |
 |
| Foto lereng Gunung Guntur. |
 |
| Topogradi curam yang ditanami sayuran |
Kerusakan ini berimplikasi pada tingginya
Rasio Koefisien Sungai (RKS)
Sungai Cimanuk. Sungai Cimanuk memiliki
RKS 713. RKS merupakan perbandingan antara debit maksimum sungai terhadap debit minimum sungai. Suatu DAS dikatakan buruk jika
RKS lebih besar dari 80.
Bagaimanapun bencana alam sudah terjadi, nyawa yang hilang tidak akan kembali tetapi materi yang hilang masih bisa dicari. Jadi ke depan,
mari kita perbaiki DAS Cimanuk dan sekitarnya agar bencana banjir bandang atau longsor tidak terjadi lagi.
No comments:
Terima kasih telah meninggalkan komentar dan semua komentar akan muncul setelah dimoderasi.