loading...

DMCA Protected

What You See is What You Expect to See

Seperti biasa, rutinitas pagi sebelum mandi sambil menikmati secangkir kopi vietnamdrip adalah membaca email dan pesan whatsapp yang menumpuk. Kebanyakan emang isinya adalah sampah, jadi sebelum dibuka dan dibaca udah masuk ke trash.

Tetapi dari puluhan bahkan ratusan pesan di pagi hari, selalu saja ada 1 atau 2 pesan yang menginspirasi dan memberikan energi positif, hanya 1 atau 2 lho ya... Tidak semua pesan positif berasal dari grup atau personal yang memang kumpulan orang-orang baik, terkadang dari grup yang aneh pun kadang muncul kutipan menarik yang memberikan  motivasi.

Ilustrasi what you see is what you expect to see. Sumber : vimeo.
Ilustrasi what you see is what you expect to see. Sumber : vimeo.

Nah, pagi tadi, saya baca satu kutipan yang sangat bagus untuk direnungkan, yaitu what you see is what you expect to see.

Kutipan itu muncul ketika ada diskusi yang hangat tentang sesuatu yang sebaiknya saya tidak sebutkan di sini, yang akhirnya dibahas berdasarkan kaidah keilmuan yang pernah kami peroleh di tempat yang sama. Kala itu kami belajar Sistem Dinamis dan System Thinking.

Saya tidak akan cerita apa itu sistem dinamis dan system thinking, saya hanya ingin menyampaikan kalau beberapa tahun silam pernah membaca suatu tulisan yang memang ada kaitannya dengan kutipan tersebut tetapi tidak ada kaitan sama sekali dengan ilmu perencanaan.

Saya hanya ingin menyampaikan supaya siapapun bisa paham maksud dari kutipan itu tanpa harus ikut belajar system thingking. Tetapi bagi yang mau belajar bisa membuka buku The Fifth Dicipline karangan Petter Senge.

Ini kutipan yang saya maksud untuk memberikan pencerahan. Kutipan ini banyak ditulis dan ditulis ulang di banyak website jadi saya tidak tahu sumber mana yang merupakan sumber utama.
Suatu hari seorang lelaki menemui Buya Hamka. Kepada beliau, dengan gemas menggebu dia bercerita. “Subhanallah Buya”, ujarnya. “Sungguh saya tidak menyangka. Ternyata di Makkah itu ada pelacur, Buya. Kok bisa ya Buya? Ih. Ngeri.”
“O ya?”, sahut Buya Hamka. “Saya baru saja Los Angeles dan New York itu. Dan masyaallah, ternyata di sana tidak ada pelacur.”
“Ah, mana mungkin Buya! Di Makkah saja ada kok. Pasti di Amerika jauh lebih banyak lagi!”

Kita memang hanya akan dipertemukan, dengan apa-apa yang kita cari.” tukas Buya dengan senyum teduhnya.

Meski pergi ke Makkah, tapi jika yang diburu oleh hati kita memang adalah hal-hal buruk, syaithan dari golongan jin maupun manusia takkan kekurangan cara untuk membantu kita mendapatkannya.

Dan meski safar-nya ke Los Angeles dan New York, jika yang dicarinya adalah kebajikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi.
Maka mari mengisi hati kita dengan prasangka baik, harapan baik, keinginan baik, dan tekad untuk menjadi lebih baik.

Sebab jika hati senantiasa berniat baik; Allah akan pertemukan kita dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, atau setidaknya peluang dan kesempatan berbuat baik.

Itulah aspek religius yang ingin saya kemukakan. Nah, terkait dengan perencanaan, kalau saja menjadi pemangku kebijakan, kalau saja diawali dengan mimpi yang buruk, mimpi buruk itu akan jadi kenyataan, jadi... mimpi-lah yang terbaik.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah meninggalkan komentar dan semua komentar akan muncul setelah dimoderasi.

Loading...